Sudah dua belas tahun Mariana menulis surat yang sama. Bukan karena ia vergot isinya — setiap kata terukir dalam — melainkan karena ia tidak pernah menemukan keberanian untuk mengirimkannya.

Surat itu dimulai dengan "Kepada kamu yang entah di mana," dan diakhiri dengan sesuatu yang bahkan tidak berani ia baca ulang. Di antaranya, satu setengah halaman tentang sebuah sore di bulan Maret, sebuah stasiun kereta, dan sebuah kata selamat tinggal yang ternyata adalah untuk selamanya.